Wednesday, August 12, 2009

Perbedaan antara Pemimpin dengan Boss???

Berikut perbandingan yang diberikan
Gordon Selfridge antara orang yang
bertipe pemimpin dan orang yang bertipe
bos.

Seorang bos mempekerjakan bawahan
Seorang pemimpin mengilhami bawahan

Seorang bos mengandalkan kekuasaan
Seorang pemimpin mengandalkan kemauan baik

Seorang bos menimbulkan ketakutan
Seorang pemimpin memancarkan kasih

Seorang bos mengatakan 'aku'
Seorang pemimpin mengatakan 'kita'

Seorang bos menunjukkan siapa yang bersalah
Seorang pemimpin menunjukkan apa yang salah

Seorang bos tahu bagaimana sesuatu dikerjakan
Seorang pemimpin tahu bagaimana mengerjakannya

Seorang bos menuntut rasa hormat
Seorang pemimpin membangkitkan rasa hormat

Seorang bos berkata, 'Pergi!'
Seorang pemimpin berkata, 'Mari kita pergi!'

Monday, March 23, 2009

KOMITMENkah kita terhadap WAKTU??


Ada sebuah cerita bagus dari seorang raja di salah satu kota, Anthony de Mello, yang akan mengadakan pesta bersama rakyatnya. Sebagai bentuk kebersamaan, setiap keluarga diharapkan membawa sebotol anggur untuk dituangkan dalam satu tempat hingga setelah terkumpul semua, akan diminum bersama-sama. Satu demi satu keluarga menuangkan sebotol anggur yang dibawanya ditempat yang telah disediakan panitia.

Setelah semuanya berkumpul, raja kemudian mengungkapkan maksud diadakannya pesta tersebut dan sebagai bentuk syukur atas panen yang baru dilaksanakan. Anggur yang terkumpul itu merupakan simbol kebersamaan bahwa dalam keadaan apapun masyarakat harus tetap bersatu. Sebagai tanda dibukanya acara tersebut, maka raja dan perdana mentri bersulang dari anggur yang diambil dari penampungan anggur yang terkumpul tadi. Betapa kagetnya raja dan perdana mentri karena anggur tersebut rasanya hambar dan agak asin. Raja marah dan ingin mengetahui siapa yang merusakkan acara tersebut dengan meletakkan air teh atau air biasa ke dalam penampungan angggur.

Tim penyelidik kasus ini ternyata menemukan suatu fenomena bahwa masing-masing orang berpikir, “kalau aku memasukkan sebotol air putihsedikit saja ke dalam tong tersebut, pasti tidak akan merubah apa-apa, apalagi tongnya sangat besar dan bergalon-galon. Apalah arti sebotol air biasa jika dimasukkan ke dalam tong tersebut?” Rupanya tidak satu orang saja yang berpikiran seperti itu. Hampir semua penduduk yang membawa botol berpikiran seperti itu dan tong itu pun akhirnya sebagian besar berisi air putih atau teh.

Nah,, setelah baca cerita diatas, pelajaran ato hikmah apa yang dapat dipetik??

Pelajaran yang dapat diambil adalah Persoalan WAKTU. Ketika janji untuk hadir dalam sebuah pertemuan sudah ditetapkan, hal itu menunjukkan seberapa besar komitmen terhadap pertemuan tersebut dan harga yang harus dibayar. Jika seseorang datang terlambat dalam suatu rapat, misalnya karena menyangka toh cuma dia sendiri yang datang terlambat, pasti tidak akan berpengaruh pada jalannya rapat . akan tetapi, pada kenyataannya tidak dia sendiri yang berprasangka demikian, melainkan semua peserta rapa t yang diundang. Akibatnya rapat jadi molor. Sayang sekali kan, waktu tidak dapat dimanfaatkan dan kesempatan yang ada jadi terbuang sia-sia hanya untuk saling tunggu menunggu.

Waktu merupakan inti perputaran dunia. Waktu selalu bergerak maju dan tak kan mungkin mundur dengan volume tetap. Waktu merupakan catatan sejarah seseorang dan waktu adalah kesempatan.

Betapa berharganya waktu hingga John C. Maxwell menulis dalam bukunya Today Matters seperti ini:
Untuk mengetahui nilai satu tahun … tanyakanlah
Kepada murid yang gagal ujian akhir
Untuk mengetahui nilai satu bulan … tanyakanlah
Kepada ibu yang bayinya lahir prematur
Untuk mengetahui nilai satu minggu … tanyakanlah
Kepada editor sebuah majalah mingguan
Untuk mengetahui nilai satu hari … tanyakanlah
Kepada buruh harian yang mempunyai enam orang anak
Untuk mengetahui nilai satu menit … tanyakanlah
Kepada kekasih yang sedang menantikan waktu berjumpa
Untuk mengetahui nilai satu detik … tanyakanlah
Kepada orang yang selamat dari kecelakaan
Untuk menanyakan nilai satu milidetik … tanyakanlah
Kepada peraih medali perak olimpiade.

Dikutip dari buku “Fulfilling life
Karya Parlindungan Marpaung

Saturday, March 14, 2009

Cinta itu Fitrah, Cinta itu Anugerah...

Mencintai dicintai itu fitrah manusia
Setiap insan di dunia akan merasakannya
Indah, ceria, kadang merana
Itulah rasa cinta…

Sebait lirik lagu “The Fikr”, tiba-tiba menarik perhatianku dan menggerakkan jari-jariku untuk menorehkan sedikit cerita. Cinta.. cinta… Apakah cinta itu? Mungkin kita yang sering menyebut dan mendengar kata itu belum tentu bisa mendiskripsikannya. Mungkin terlalu sulit untuk memberi gambaran atau kita hanya cukup tau kata cinta itu sendiri tanpa bisa memaknainya lebih dalam.

Kata orang jatuh cinta itu berjuta rasanya, tapi ketika ditanya apa cinta itu? Mereka bahkan kita sendiri mungkin tidak bisa mendefinisikannya secara jelas.

Padahal cinta itu ada, cinta itu nyata. Tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar tapi bisa dirasakan. Cinta itu adalah fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Cinta itu tidak dapat dihindari karena cinta itu adalah fitrah. Cinta itu Anugerah yang harus disyukuri.
Tanpa cinta, di muka bumi ini pasti akan terjadi permusuhan, perpecahan dan jauh dari kedamaian. Tanpa cinta, seorang ibu akan membiarkan anaknya menangis kelaparan dan kehausan. Tanpa cinta, seorang suami tidak akan memberi nafkah lahir dan batin. Tanpa cinta, tidak akan ada persahabatan yang terjalin dan terbina. Tanpa cinta.. tanpa cinta… akan banyak yang hancur.

Tapi karna cinta juga mungkin seseorang akan merasa tersakiti, karena dia pernah merasa “jatuh”. Karna cinta juga mungkin seseorang akan jadi membenci orang lain. Itulah cinta yang salah arah dan tujuannya. Cinta yang hanya berlandaskan nafsu bukan cinta karena Allah.

Kita tidak akan pernah kecewa, kita tidak akan pernah sakit hati kalau cinta kita hanya, karena, dan untuk Allah. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Karena Allah sayang ama kita. Jadi, jangan pernah mencoba berpaling dari-Nya!

Ingat! Cinta yang hakiki dan sejati adalah cinta pada Allah.

-triwahyumaskunaryatun-

Friday, January 30, 2009

DIALOG IMAM ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : "Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam.

Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :"Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara :"Katakan pendapat tuan!". Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :"Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?". "Benar, tahukah tuan tentang hitungan?", tanya Abu Hanifah. "Ya". "Apa itu sebelum angka satu?". "Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu", jawab sang kafir itu. "Demikian pula Allah Swt". "Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya", tanya si kafir tersebut. "Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?". "Ya". "Adakah di dalam susu itu keju?". "Ya". "Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?", tanya Abu Hanifah. "Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!", jawab ilmuwan kafir itu. "Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan", jelas Abu Hanifah. "Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?", tanya orang kafir itu. "Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?", tanya Abu Hanifah. "Sinarnya menghadap ke semua arah". "Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi". "Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?". "Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu". Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.

SHAHABAT IDEAL,, KAYA’ APA SIIIH???


Mencari teman itu bisa dibilang mudah, tapi untuk mencari teman yang bisa membimbing dan mendukung kita ke arah yang benar,mungkin itu cukup sulit.
Temen saya banyak bahkan sangat banyak…tapi shahabat saya Cuma beberapa (shahabat ideal).
Why? Mengapa? Loch koq bisa siih?
Bisa dunk! Karena seorang shahabat bukan hanya berperan sebagai teman sepermainan, teman curhat, atau teman yang enak diajak ngobrol ajah.
Tapi, kedudukan seorang teman harus lebih baik dari itu, minimal seorang shahabat ideal itu harus punya empat macam karakteristik, antara lain:

1. Shahabat yang bisa mengkritik
Mengkritik disini bukan untuk menjatuhkan kita loch. Tapi justru shahabat kita sayang ama kita dan ga’ mau membiarkan kita itu jatuh dan terjerumus apalagi terperosok ke dalam jurang kesesatan. Masak iya sih shahabat kita tega melihat kita jatuh??
Tauuu ga’? shahabat yang baik itu adalah orang yang bisa mengkritik kita di waktu kita berbuat kesalahan.

2. Always beside me
Yang kedua adalah selalu menemani kita di saat susah ataupun senang. Yapz! Itulah shahabat kita. Hadir untuk mendengar curahatan kita, memberi saran. Tidak hanya hadir ketika kita senang ajah tapi di kala kita ada musibah, dia juga mendukung kita.

3. Bisa memotivasi kita untuk beribadah
Nabi pernah bersabda: “khoirunnas (manusia terbaik)adalah orang yang ketika kita melihatnya saja, kita termotivasi untuk beribadah.”
Jika kita punya teman seperti sabda Nabi tersebut maka kita akan terjaga dari berbuat maksiat serta terinspirasi untuk berbuat kebaikan.

4. Siap Dikritik!
Itu yang namanya shahabat baik, dia ga’ hanya berani mengkritik saja, tapi dia juga mampu menerima kritikan dari kita.
Seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al Asr: ” … dan yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Nah,, udah tau kan kriteria shahabat-shahabat ideal itu seperti apa.
Sebuah persahabatan akan lebih indah apabila dijalin dan didasari karena Allah, insyAllah persahabatan yang tidak akan putus sampai akhirat. Aamiin.



Nabi SAW bersabda “jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita juga akan terkena bau harumnya dan jika kita berteman dengan pandai besi maka kita juga akan terkena panasnya.”

Carilah teman ideal yang betul-betul ideal menurut pandangan Allah.
Wallahu a’lam bish showab

Shahabatku,, aku rindu menjalin ukhuwah bersamamu…



Hampir dua setengah tahun kita berpisah. Gimana kabarmu ya ukhti?? Apakah kau disana baik-baik saja, apakah kau di bumi Allah sebelah sana sehat? Aku sangat merindukan ‘prendz poreper’(kita berdelapan).

Masih ingatkah kamu, saat-saat indah, saat-saat sedih, kecewa yang kita lalui ber-8 di SMA? Kangen rasanya. Kangen pagi-pagi ikut kajian rutin pagi di Mushola. Iya, Mushola… Mushola kecil dengan cat berwarna hijau di sudut paling belakang SMA. Tempat anak-anak ROHIS buat syuro, buat ikut kajian, buat ngumpul, buat silaturahmi, dll.. yach.. pokokna basecamp nya anak-anak ROHIS.

Kangen saat kita pergi bareng,,, pergi tidak hanya sekedar maen dan hura-hura, tapi kita pergi untuk menunaikan kewajiban kita menyalurkan ilmu yang kita miliki untuk adik-adik kita di SMP-SMP sekitar kita. Di situ banyak sekali pengalaman dan ibrah yang bisa kita dapatkan.

Kangen saat kita jadi panitia buat events ROHIS. Tentu banyak suka duka yang kita rasakan saat jadi panitia. Tapi setelah sekian lama, kembali aku mengingatnya.. lucu juga ya..^^

Kangen saat kita belajar bareng buat menghadapi ujian sekolah.
Teringat juga saat kita memperjuangkan diri kita di depan guru olahraga bahwa sebagai seorang akhwat yang Alhamdulillah telah berjilbab untuk tidak ikut renang, karena tahulah masak kita disuruh ikut renang dengan kondisi campur baur, apalagi guru OR laki-laki. Ihh.. ogah lah!

Kangen… kangen… kangen buangedh semuanya, mungkin kalau dituliskan dalam kata-kata ga akan cukup. Smoga kerinduan ku kepada kalian karena Allah. Kecintaanku ke kalian juga karena Allah. Betapa indahnya jika semua itu dilandasi atas dasar Mahabbah kita kepada Sang Pemberi Cinta.
Tapi,, sekarang aku hanya bisa mengenang kenangan-kenangan itu dalam memoriku. Kenangan yang tidak bisa dikembalikan lagi, yang tidak pernah bisa diputar kembali waktunya.

Namun aku ga boleh sedih dan larut dalam kenangan, karena jalan di depan masih panjang dan berliku, yang harus dilewati dengan perjuangan dan tentunya dengan teman baru yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Sungguh terasa, sangat susah mencari teman baru seperti kalian (prendzporeper) saat aku jauh merantau di tempat orang. Tapi aku ga boleh lemah, karena Allah tidak menyukai orang yang lemah. Dan terakhir, SMANGAT!!!!!!!! Dimanapun kita berada, karena do’a kalian , aku masih mampu dan kuat untuk bertahan dan berjuang. Jazakumullahu khairan katsiran my beloved friends. Luph u coz Allah. ^_^

Tuesday, January 13, 2009

Izinkanlah aku Mencintai-MU semampuku


Rabbii…
masih jelas diingatanku, ketika pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
lembar demi lembar kitab kupelajari
untai demi untai kata para ustadz kuresapi
tentang cinta para Nabi
tentang kasih para shahabat
tentang kerinduan para syuhada

kemudian..
mulai ku tanam di jiwa dalam-dalam
mulai kujalani perintah-Mu dan ku jauhi larangan-Mu pelan-pelan

tapi Rabbi..
berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu..
aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang utama, tapi…
aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
aku makin merasakan gelisahku membadai
dalam cita yang mengawang
sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan

Wahai Ilahi..
kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu..
aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
menatap, memohon, dan menghiba pada-Mu:

Allahu Rahiim..
izinkanlah aku mencintai-Mu
sebisaku dalam segala kelemahanku
perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
agar cinta ini mengalun dalam jiwa
agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku