
Sunday, September 5, 2010
teman asaku

Sunday, February 14, 2010
Kenapa kamu pake jilbab??-part 2-

Zahra menatap lembut sahabatnya itu yang diam mendengarkan penjelasannya.
“Iya, kalo misalnya orang yang pake jilbab aja masih bisa diimajinasikan oleh laki-laki, kenapa kamu pake jilbab? Ga ada bedanya donk?!?”
“Ada donk saii, tentu ada bedanya orang yang berjilbab dengan tidak. Pertama kita kan sebagai wanita baligh diperintahkan Allah untuk berjilbab. Bayangin Allah yang memerintahkan langsung kepada kita sebagai wanita untuk menutup aurat. Aku bacakan artinya ya :’Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuhnya”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu…. .’ itu ada di surat Al ahzab ayat 59, ntar kalo udah di rumah kamu buka coba. Apakah aku ini mengada-ada atau itu emang bener-bener ada perintah langsung dari Allah.”
Wanita yang berjilbab itu lebih mulia, lebih berharga, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.”
“ Bagus ya kata-katanya, aku kayakanya pernah denger itu kata-kata dari siapa ya? Oia, kata guru agama kita di SMP itu ya?” sela Sinta
“hehe.. iya itu kata guru SMP kita dulu yang dikutip dari sabda Rasulullah SAW” jawab Zahra
Wanita itu ibarat sebuah barang di etalase toko, yang suka diliat ama orang-orang, dipilh-pilih oleh calaon pembeli. Tapi para pembeli itu akan memilih barang yang masih terbungkus dan tersegel rapi belum rusak sedikit pun kan? Seperti itulah wanita berjilbab, wanita muslimah. Ia begitu berharga.
Ia juga seperti durian, di luar sangat tajam dan keras tapi di dalam sesungguhnya sangat lembut dan manis keras disini adalah tegas terhadap hal-hal kemaksiatan, tegas terhadap perintah Allah dan Sunnah Rasul serta lembut untuk menjalaninya. Ingat, ya Muslimah itu tidak lemah tapi ia adalah kuat dan lembut.
Terus aku juga merasa nyaman dan aman jika aku berjilbab, karena jilbab ini akan selalu mengingatkanku ketika aku akan berbuat maksiat maka dia secara otomatis akan bilang ‘Zahra kamu tidak malu dengan identitas muslimah yang kamu kenakan ini!’ dan jilbab ini yang akan terus memotivasi diriku agar lebih baik dalam menjalin hubungan secara vertical dan horizontal. Selain itu, kita juga ga akan pernah tau kapan kita akan diambil-Nya sehingga kita harus siap-siap bawa bekal yang banyak. Gimana misalnya kalau kita diambil oleh-Nya dalam keadaan kita belum menutup aurat kita? Naudzubillah min dzalik. Semoga kita meninggal dalam keadaan baik yaitu khusnul khotimah.
Oow,, gitu ya ternyata ada perintah-Nya, aku baru ngeh, kirain orang-orang itu pake jilbab buat trend-trend an ajah atau ikut aliran tertentu..iih kan serem kalau ikut aliran-aliran ga jelas gitu. Sambil mengangguk-angguk dan Sinta diam sejenak menatap Zahra.
Sinta mengembangkan senyumnya, dalam hati ia berdo’a Ya Allah, Yang melembutkan hati, lembutkan lah hati sahabatku ini dan bukakanlah pintu hidayah baginya. Semoga pertemuan kita yang tidak sengaja dan obrolan kita ini dapat menyadarkannya. Aamiin.
“Eh,, terus Sin, gimana kamu? Kapan mau menyusul aku mengenakan jilbab?” Tanya Zahra membuyarkan lamunannya.
“Ehhh.. itu dia Zah, aku belum siap,, lha wong aku masih kayak gini? Aku harus menjilbabi hati dulu nih.. tapi belum ketutup-tutup mpe sekarang” jawab Sinta sambil tertawa.
Sekali lagi Zahra tersenyum penuh makna.
“Kenapa sih Zah, kamu tuh senyum terus ketika aku Tanya. Emang kamu ga sebel ya aku Tanya-tanya ini itu?”
“ Karena senyum ini yang akan menguatkanku, menguatkanku untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan orang lain berikan, senyum yang menandakan bahwa aku itu bukan musuh mu dan aku adalah saudaramu”
“Belum siap berjilbab karena masih kayak gini, itu bukan alasan yang bisa dibenarkan sebenarnya. Lalu kenapa hati harus dijilbab i?? justru itu hal-hal yang salah kaprah selama ini. Hati itu seharusnya harus selalu dan tetap dibuka terhadap ilmu-ilmu, nasihat-nasihat yang baik biar hidayah Allah itu mudah masuknya.
Dan yang seharusnya dijilbabi itu adalah seluruh tubuh kita kecuali muka dan telapak tangan.
Semoga Allah segera menunjukkan jalan yang benar dan membukakan pintu hati hidayah kepada kita.
Aamiin. Zahra dan Sinta serentak mengucapkan itu.
Oia, Sin, ini udah jam lima lebih aku harus segera pulang.. kapan2 kita bisa lanjutin diskusi ini ya.
“Assalamu’alaykum wr wb..”
Wa’alaykumsalam wr. Wb.
Kenapa kamu pake jilbab?? -part 1-

Inspirasi dari seseorang. :)
*Nama disamarkan.
Sore itu, saat Sinta lagi pergi ke pusat perbelanjaan di kotanya tak sengaja pandangannya tertuju ke seorang gadis cantik dan anggun dengan busana jilbabnya.
Bengong.. sesaat Sinta melihat gadis itu,, rasa-rasanya aku pernah melihat dia deh, tapi dimana ya??
Masih dalam kebengongannya, gadis anggun tadi berjalan mendekati Sinta. Menyapa, “Assalamu’alaykum wr wb..”
“eh..eh..” tersadar juga Sinta dari bengongnya.
“kumsalam” jawab Sinta singkat
“Kamu Sinta kan?? Dulu anak SMP X? Sinta,, ini aku Zahra. Temen SMP kamu, yang tiga tahun duduk satu bangku dengan mu dulu. Kamu ga inget??”
“haaah?? Zahra? Beneran kamu Zahra? Zahra sobat aku pas SMP dulu?”
“iya”
Akhirnya mereka berdua berpelukan dengan rasa bahagia, senang, campur-campur jadi satu.
“Ayo kita nyari tempat untuk ngobrol, udah lama kan kita ga ketemu.” Ajak Sinta
“Baiklah, aku juga kangen banget ama kamu. Tapi aku jam 5 udah harus pulang, nanti dicari sama Ibu soalnya tadi kan Cuma disuruh beli ini, sambil menunjukkan barang belanjaannya.” Kata Zahra
Setelah ngobrol kesana-kemari, nanya kabar, tukeran no hp, nanya tempat kuliah, dsb.
Akhirnya Sinta menyinggung juga pembicaraan tentang pakaian yang di pake Zahra.
“Zahra.. ya ampun,, kamu tambah cantik banget sekarang. Sampai aku ga ngenalin kamu tau.. tapi ada yang aneh deh,, emm kan sayang kalo rambut bagusmu itu kamu tutupin dengan kain itu dan tubuhmu yang indah kamu tutupin dengan.. baju apa ini,, kok ga modis gini siih..!” kenapa sih sekarang kamu jadi kayak gini? Kenapa sih kamu mau pake jilbab? Padahal dulu kan kamu bilang kalo kamu tuh ga mau pake-pake kayak gini, ribet bla..bla..bla..”
Zahra tersenyum lebar dan berkata dengan lembutnya “Sahabatku sayang,, Alhamdulillah semua ini adalah karunia dan hidayah dari Allah. Kita ga akan pernah tau kan kalo aku akan mengenakan pakaian seperti ini. Kenapa rambutku dan tubuhku harus kututup dengan kain-kain seperti ini? Karena aku tidak ingin menjadi fantasi bagi laki-laki yang memiliki nafsu-nafsu yang tersembunyi.”
Sinta menyela “tapi kan kalo kita ga berpakaian seronok, laki-laki tidak akan bernafsu kepada kita kan?!?”
“Tahukah kamu, kejahatan terhadap perempuan, pelecehan seksual itu terjadi tidak hanya Karena pihak laki-laki saja tetapi karena wanita juga. Iya, karena wanita tidak menjaga dirinya, tidak menutup auratnya kecuali yang nampak baginya yakni wajah dan telapak tangan.
Aku jadi teringat, saat pelajaran matematika kelas 3 SMA bab dimensi tiga. Guruku bilang kalau laki-laki itu paling jago untuk bab ini, dan sangat jarang perempuan bisa menguasai bab ini. Kamu tau kenapa? Karena laki-laki itu tingkat imajinasinya sangat tinggi bahkan sampai bisa menembus ke dimensi tiga.
Bayangkan coba,, walaupun wanita itu tidak memakai pakaian seksi bahkan memakai jilbab sesuai syariat pun, laki-laki masih akan tetap bisa mengimajinasikan kita. Sangat bahaya kan..
--continue--
Tuesday, February 9, 2010
Buta, Bisu, dan Tuli -part 3-
Bismillah.. kuberanikan diri mengungkapkan maksudku untuk mengkhitbah seorang gadis kepada ayah dan bunda. Dan aku menjelaskan semuanya mengenai akhwat tersebut hingga keluarganya. Aku takut kalau kedua orang tua ku tidak mengijinkan karena akhwat tersebut buta, bisu, dan tuli. Kami semua diam sejenak, tapi diluar dugaan ku ayah memberikan ijin untuk mengkhitbah Zahira, aku tak tau alasannya mengapa ayah dan ibu mengijinkan, tak ku coba untuk bertanya jua. Mungkin ini petunjuk dari Allah atas niatanku melamar Zahira.
“Kapan nak kita datang mengkhitbah akhwat itu?” tanya ayah
“Besok Yah”
Hari ini adalah hari yang akan bersejarah dimana aku bersama keluargaku datang mengkhitbah Zahira.
Setelah kami sampai dirumah Zahira, perkenalan antar orang tua kemudian berlanjut deklarasi pengkhitbahan dari ayah ke keluarga Zahira.
Ayah Zahira menerima dan kembali mengungkapkan putrid saya Zahira adalah permata kami yang buta, tuli, dan bisu. Apakah Sidiq sekeluarga benar-benar dan sungguh-sungguh mau menerima Zahira dengan segala yang ada pada dirinya? Zahira sebelumnya sudah mengungkapkan kepada kami selaku orangtuanya bahwa dia mau menerima Sidiq yang kelak akan menjadi imamnya.
Kami menjawab, iya.
Alhamdulillah, ucap keluarga Zahira.
“Mi, tolong panggilkan Zahira” suruh ayah Zahira
“ Baik Yah”
Kemudian muncul, sesosok gadis dengan jilbab lebarnya yang cantik dan mempesona. Kuberanikan diri ini memandangnya,, deg..deg.. Subhanallah akhwat yang buta, tuli, dan bisu itu memang permata seperti yang di bilang ayahnya. insyAllah aku akan menerima segala yang ada pada dirinya, dengan mantap aku berkata di dalam hati.
Belum selesai percakapan ku di dalam hati, tersadarkan aku oleh ayah Zahira yang berkata “ Ini adalah putriku, Zahira Naura. Dia memang buta, iya buta untuk melihat hal-hal maksiat yang tidak dianjurkan oleh agama. Dia juga memang tuli, iya tuli untuk mendengar kata-kata yang kotor dan tidak bermanfaat. Dan dia juga bisu, iya bisu untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat, bisu untuk membicarakan orang lain.
Subhanallah.. aku kembali terhenyak.. lebih terhenyak dari kedatanganku sebelumnya. Subhanallah.. Subhanallah.. hanya kata itu yang bisa aku ucapkan dalam hati. Tanpa sadar kembali air mata ini menetes. Dan keluargaku juga tak henti-hentinya berucap Subhanallah..
Sekarang aku baru mengerti makna permata, buta, bisu dan tuli yang tersirat dari kata-kata ayah Zahira itu, iya permata yang indah dan berkilauan yang jauh dari sifat-sifat maksiat. Akhwat yang takut akan adzab Sang Khalik, yang berbakti pada ibu bapaknya, dan seabrek kebaikan-kebaikan lainnya. Lengkap sudah, ya inilah akhwat sholehah yang sesungguhnya.
Kemudian akad nikah akan berlangsung dua minggu kemudian sesuai kesepakatan antara dua keluarga.
Alhamdulillah ya Allah, ini adalah jawaban atas segala-do’a-do’a hamba. Terima kasih ya Allah, Engkau memberiku seseorang yang tidak hanya terbaik menurut hamba tapi juga terbaik menurut Engkau. J
..the end...
Buta, Bisu, dan Tuli -part 2-
Setelah sampai dirumah orang tua akhwat tersebut. Ustadz menjelaskan maksud kedatangan kami, dan mengenalkan aku secara singkat. Kemudian saya diperkenankan ustadz memperkenalkan diri secara detail. Selanjutnya, ayah akhwat tersebut berkata, saya terima ta’aruf dari saudara Sidiq tetapi ada yang ingin saya sampaikan, putri yang saya sayangi itu buta, tuli, dan bisu,, apakah saudara Sidiq masih berkeinginan melanjutkan ta’aruf ini?
Aku terdiam sejenak, terhenyak, dan sempat berfikir masa’ ustadz mengenalkanku pada seorang akhwat yang buta, tuli, dan bisu?? Masa’ sih, tapi aku kenal betul siapa ustadz, beliau tidak mengkin main-main dengan pilhannya itu, pertanyaan itu terus menerus berkecamuk di kalbuku.
“Diq..Sidiq.. “ tegur ustadz menyadarkan diamku
“Gimana mau meneruskan atau tidak?” Tanya ustadz
“Ooh..eeh..” dengan ragu-ragu aku menjawab iya.
Kemudian kami berpamitan pulang setelah berbasa-basi dengan pemilik rumah.
Sepanjang perjalanan pulang , aku selalu diam dan berpikir, apakah dia yang akan menjadi jodohku ya, tapi pasti ustadz tidak main-main dengan proses ta’aruf ini?? Aku kembali ke konsentrasiku mengendarai motor dan mengantar ustadz sampai ke rumahnya yang lumayan jauh dari rumahku.
Di sepertiga malam aku terbangun lalu kudirikan tahajudku dan istikhorah ku. Dalam do’a, aku memohon kepada Sang Pemberi Petunjuk “ Ya Allah jika akhwat itu adalah jodoh bagiku dan yang terbaik bagiku dan menurut Engkau ya Allah maka tuntun hamba agar ikhlas menerima segala yang ada pada dirinya dan kekalkanlah ikatan kami nanti dengan ridho dan rahmat-MU. Tetapi jikalau akhwat tersebut bukan yang terbaik bagi hamba, pilihkan dan tunjukkan hamba jodoh yang terbaik menurut Engkau Ya Allah.” Aamiin
Kemudian, aku kembali teringat kata-kata ayah akhwat tersebut, nama putri saya adalah Zahira, dia adalah permata yang indah yang tiada duanya. Tetapi akhi, putri saya buta, bisu, dan tuli. Deg! Kembali aku terhenyak, istighfar..istigfar.. Diq ungkap ku dalam hati.
Dalam waktu dua minggu ini, adalah waktu ta’aruf yang sudah disepakati. Kalau aku tidak cocok maka setelah 2 minggu berakhir aku tidak akan datang mengkhitbah tapi kalau aku sudah sreg maka aku bersama keluargaku dan juga ustadz akan datang untuk mengkhitbah Zahira.
Satu minggu telah berlalu tapi aku juga belum mantap, tak lupa aku selalu istikharah meminta petunjuk Allah SWT..
Dua pekan akan segera habis dan ini adalah hari terakhirku untuk memantapkan hati apakah besok akan datang mengkhitbah atau tidak. Aku sholat dhuha, kemudian tilawah tanpa terasa air mataku menitik, segera kuhapus dalam hati berkata Ya Rabb, ampuni hamba.. ampuni hamba..
....continue...
Buta, Bisu, dan Tuli -part 1-
Alkisah, ada seorang ikhwan yang sudah cukup dewasa, cukup matang, dan siap lahir bathin untuk menikah. Tetapi, ada satu hal yang masih mengganjal pikiran dan hatinya setiap kali ibunya menanyakan “kapan anakku, kamu menikah? Ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucu.” Maklumlah Sidiq adalah anak pertama dari dua bersaudara, sedangkan Namira, adik perempuannya masih menempuh SMA di tingkat akhir.
“Iya bunda, pada waktu dan jodoh yang tepat, ananda akan segera menikah.” Jawab Sidiq dengan lembutnya.
Dalam hati sidiq berkata, ini juga sedang diikhtiarkan, ananda juga ingin segera menyempurnakan separuh agama ini. Tak lupa ia juga selalu memohon petunjuk Sang Pemberi Cinta, agar belahan jiwanya segera dipertemukan dengannya.
Suatu hari, ia beranikan diri untuk menemui Murobi nya. “Ustadz, ana ingin menyempurnakan separuh agama ini, insyAllah ana sudah siap. Dan bunda ana sudah memberikan lampu hijau dan mempercayakan semua pilihanya kepada ana.”
“Baiklah, akan ustadz usahakan. Besok tolong bawa biodata lengkapmu. InsyAllah kita ketemu di tempat ini dengan jam yang sama dengan hari ini kita bertemu”
“iya ustadz” kata Sidiq
“Assalamu’alaykum wr wb.”
“Wa’alaykumsalam wr wb.”
Keesokan harinya, sidiq bertemu dengan ustadz.
“Ini ustadz, berkas-berkas yang diperlukan sudah ane siapkan.”
Seketika ustadz tersebut langsung membaca berkas-berkas yang tak lain adalah biodata mutarobbi nya itu.
“Akhi fillah, ustadz sudah membaca berkas ini, dan sebenarnya ustadz sudah mempunyai calon seorang akhwat yang hendak ustadz ta’arufkan kepada engkau putraku. InsyAllah kita akan ke rumah nya ahad ini, kita bertemu di masjid As Safir jam 10 pagi ya.”
“Alhamdulillah, iya ustadz.. InsyAllah. Syukran ya ustadz.”
Belum apa-apa hatiku sudah dag dig dug,, hehe.. Ya Rabb, tunjukanlah hamba jalan benar yang Engkau ridhoi dan mudahkanlah jalannya. Aamiin (do’a ku dalam hati).
Hari yang kutunggu untuk ta’aruf dengan akhwat yang hendak dikenalkan ustadz akhirnya datang juga. Setelah ketemu ustadz pada waktu dan tempat yang dijanjikan, kami segera meluncur ke rumah akhwat tersebut.
....continue...
Thursday, February 4, 2010
Rose or Chocolate??
