
Wednesday, February 10, 2010
10022010

Tuesday, February 9, 2010
Buta, Bisu, dan Tuli -part 3-
Bismillah.. kuberanikan diri mengungkapkan maksudku untuk mengkhitbah seorang gadis kepada ayah dan bunda. Dan aku menjelaskan semuanya mengenai akhwat tersebut hingga keluarganya. Aku takut kalau kedua orang tua ku tidak mengijinkan karena akhwat tersebut buta, bisu, dan tuli. Kami semua diam sejenak, tapi diluar dugaan ku ayah memberikan ijin untuk mengkhitbah Zahira, aku tak tau alasannya mengapa ayah dan ibu mengijinkan, tak ku coba untuk bertanya jua. Mungkin ini petunjuk dari Allah atas niatanku melamar Zahira.
“Kapan nak kita datang mengkhitbah akhwat itu?” tanya ayah
“Besok Yah”
Hari ini adalah hari yang akan bersejarah dimana aku bersama keluargaku datang mengkhitbah Zahira.
Setelah kami sampai dirumah Zahira, perkenalan antar orang tua kemudian berlanjut deklarasi pengkhitbahan dari ayah ke keluarga Zahira.
Ayah Zahira menerima dan kembali mengungkapkan putrid saya Zahira adalah permata kami yang buta, tuli, dan bisu. Apakah Sidiq sekeluarga benar-benar dan sungguh-sungguh mau menerima Zahira dengan segala yang ada pada dirinya? Zahira sebelumnya sudah mengungkapkan kepada kami selaku orangtuanya bahwa dia mau menerima Sidiq yang kelak akan menjadi imamnya.
Kami menjawab, iya.
Alhamdulillah, ucap keluarga Zahira.
“Mi, tolong panggilkan Zahira” suruh ayah Zahira
“ Baik Yah”
Kemudian muncul, sesosok gadis dengan jilbab lebarnya yang cantik dan mempesona. Kuberanikan diri ini memandangnya,, deg..deg.. Subhanallah akhwat yang buta, tuli, dan bisu itu memang permata seperti yang di bilang ayahnya. insyAllah aku akan menerima segala yang ada pada dirinya, dengan mantap aku berkata di dalam hati.
Belum selesai percakapan ku di dalam hati, tersadarkan aku oleh ayah Zahira yang berkata “ Ini adalah putriku, Zahira Naura. Dia memang buta, iya buta untuk melihat hal-hal maksiat yang tidak dianjurkan oleh agama. Dia juga memang tuli, iya tuli untuk mendengar kata-kata yang kotor dan tidak bermanfaat. Dan dia juga bisu, iya bisu untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat, bisu untuk membicarakan orang lain.
Subhanallah.. aku kembali terhenyak.. lebih terhenyak dari kedatanganku sebelumnya. Subhanallah.. Subhanallah.. hanya kata itu yang bisa aku ucapkan dalam hati. Tanpa sadar kembali air mata ini menetes. Dan keluargaku juga tak henti-hentinya berucap Subhanallah..
Sekarang aku baru mengerti makna permata, buta, bisu dan tuli yang tersirat dari kata-kata ayah Zahira itu, iya permata yang indah dan berkilauan yang jauh dari sifat-sifat maksiat. Akhwat yang takut akan adzab Sang Khalik, yang berbakti pada ibu bapaknya, dan seabrek kebaikan-kebaikan lainnya. Lengkap sudah, ya inilah akhwat sholehah yang sesungguhnya.
Kemudian akad nikah akan berlangsung dua minggu kemudian sesuai kesepakatan antara dua keluarga.
Alhamdulillah ya Allah, ini adalah jawaban atas segala-do’a-do’a hamba. Terima kasih ya Allah, Engkau memberiku seseorang yang tidak hanya terbaik menurut hamba tapi juga terbaik menurut Engkau. J
..the end...
Buta, Bisu, dan Tuli -part 2-
Setelah sampai dirumah orang tua akhwat tersebut. Ustadz menjelaskan maksud kedatangan kami, dan mengenalkan aku secara singkat. Kemudian saya diperkenankan ustadz memperkenalkan diri secara detail. Selanjutnya, ayah akhwat tersebut berkata, saya terima ta’aruf dari saudara Sidiq tetapi ada yang ingin saya sampaikan, putri yang saya sayangi itu buta, tuli, dan bisu,, apakah saudara Sidiq masih berkeinginan melanjutkan ta’aruf ini?
Aku terdiam sejenak, terhenyak, dan sempat berfikir masa’ ustadz mengenalkanku pada seorang akhwat yang buta, tuli, dan bisu?? Masa’ sih, tapi aku kenal betul siapa ustadz, beliau tidak mengkin main-main dengan pilhannya itu, pertanyaan itu terus menerus berkecamuk di kalbuku.
“Diq..Sidiq.. “ tegur ustadz menyadarkan diamku
“Gimana mau meneruskan atau tidak?” Tanya ustadz
“Ooh..eeh..” dengan ragu-ragu aku menjawab iya.
Kemudian kami berpamitan pulang setelah berbasa-basi dengan pemilik rumah.
Sepanjang perjalanan pulang , aku selalu diam dan berpikir, apakah dia yang akan menjadi jodohku ya, tapi pasti ustadz tidak main-main dengan proses ta’aruf ini?? Aku kembali ke konsentrasiku mengendarai motor dan mengantar ustadz sampai ke rumahnya yang lumayan jauh dari rumahku.
Di sepertiga malam aku terbangun lalu kudirikan tahajudku dan istikhorah ku. Dalam do’a, aku memohon kepada Sang Pemberi Petunjuk “ Ya Allah jika akhwat itu adalah jodoh bagiku dan yang terbaik bagiku dan menurut Engkau ya Allah maka tuntun hamba agar ikhlas menerima segala yang ada pada dirinya dan kekalkanlah ikatan kami nanti dengan ridho dan rahmat-MU. Tetapi jikalau akhwat tersebut bukan yang terbaik bagi hamba, pilihkan dan tunjukkan hamba jodoh yang terbaik menurut Engkau Ya Allah.” Aamiin
Kemudian, aku kembali teringat kata-kata ayah akhwat tersebut, nama putri saya adalah Zahira, dia adalah permata yang indah yang tiada duanya. Tetapi akhi, putri saya buta, bisu, dan tuli. Deg! Kembali aku terhenyak, istighfar..istigfar.. Diq ungkap ku dalam hati.
Dalam waktu dua minggu ini, adalah waktu ta’aruf yang sudah disepakati. Kalau aku tidak cocok maka setelah 2 minggu berakhir aku tidak akan datang mengkhitbah tapi kalau aku sudah sreg maka aku bersama keluargaku dan juga ustadz akan datang untuk mengkhitbah Zahira.
Satu minggu telah berlalu tapi aku juga belum mantap, tak lupa aku selalu istikharah meminta petunjuk Allah SWT..
Dua pekan akan segera habis dan ini adalah hari terakhirku untuk memantapkan hati apakah besok akan datang mengkhitbah atau tidak. Aku sholat dhuha, kemudian tilawah tanpa terasa air mataku menitik, segera kuhapus dalam hati berkata Ya Rabb, ampuni hamba.. ampuni hamba..
....continue...
Buta, Bisu, dan Tuli -part 1-
Alkisah, ada seorang ikhwan yang sudah cukup dewasa, cukup matang, dan siap lahir bathin untuk menikah. Tetapi, ada satu hal yang masih mengganjal pikiran dan hatinya setiap kali ibunya menanyakan “kapan anakku, kamu menikah? Ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucu.” Maklumlah Sidiq adalah anak pertama dari dua bersaudara, sedangkan Namira, adik perempuannya masih menempuh SMA di tingkat akhir.
“Iya bunda, pada waktu dan jodoh yang tepat, ananda akan segera menikah.” Jawab Sidiq dengan lembutnya.
Dalam hati sidiq berkata, ini juga sedang diikhtiarkan, ananda juga ingin segera menyempurnakan separuh agama ini. Tak lupa ia juga selalu memohon petunjuk Sang Pemberi Cinta, agar belahan jiwanya segera dipertemukan dengannya.
Suatu hari, ia beranikan diri untuk menemui Murobi nya. “Ustadz, ana ingin menyempurnakan separuh agama ini, insyAllah ana sudah siap. Dan bunda ana sudah memberikan lampu hijau dan mempercayakan semua pilihanya kepada ana.”
“Baiklah, akan ustadz usahakan. Besok tolong bawa biodata lengkapmu. InsyAllah kita ketemu di tempat ini dengan jam yang sama dengan hari ini kita bertemu”
“iya ustadz” kata Sidiq
“Assalamu’alaykum wr wb.”
“Wa’alaykumsalam wr wb.”
Keesokan harinya, sidiq bertemu dengan ustadz.
“Ini ustadz, berkas-berkas yang diperlukan sudah ane siapkan.”
Seketika ustadz tersebut langsung membaca berkas-berkas yang tak lain adalah biodata mutarobbi nya itu.
“Akhi fillah, ustadz sudah membaca berkas ini, dan sebenarnya ustadz sudah mempunyai calon seorang akhwat yang hendak ustadz ta’arufkan kepada engkau putraku. InsyAllah kita akan ke rumah nya ahad ini, kita bertemu di masjid As Safir jam 10 pagi ya.”
“Alhamdulillah, iya ustadz.. InsyAllah. Syukran ya ustadz.”
Belum apa-apa hatiku sudah dag dig dug,, hehe.. Ya Rabb, tunjukanlah hamba jalan benar yang Engkau ridhoi dan mudahkanlah jalannya. Aamiin (do’a ku dalam hati).
Hari yang kutunggu untuk ta’aruf dengan akhwat yang hendak dikenalkan ustadz akhirnya datang juga. Setelah ketemu ustadz pada waktu dan tempat yang dijanjikan, kami segera meluncur ke rumah akhwat tersebut.
....continue...
Saturday, February 6, 2010
10 wasiat Hasan Al Banna
What's Valentine's Day??

Bentar lagi tanggal 14 Februari. Ada apa yaa ditanggal itu?? Kok banyak para remaja (ga remaja aja sih sebenarnya) yang menunggu datangnya tanggal 14 Februari. Ooo,, ternyata ada V’day alias Valentine’s day..
Apaan tuh V’day?? Kok terkenal banget ya. Siapa coba yang ga tau, dari anak-anak sampai orang tua pasti tau apa itu V’day. Seperti yang udah beredar di masyarakat, V’day diartikan sebagai hari kasih sayang.
Banyak orang merayakan hari kasih sayang tersebut dan setiap tahun dijadikam tradisi. Tapi, irosnisnya perayaan dan tradisi V’day itu dapat membawa ke lembah kesesatan. Lhoo kok bisa?!? Iya, jika kita melihat realita, ajang V’day dijadikan alasan untuk berbuat maksiat seperti bikin party, pacaran, bahkan tak jarang dalam party-party tersebut dibumbui dengan pesta seks. Na’udzubilahimindzalik.. hari yang mereka besar-besarkan sebagai hari kasih sayang ternyata adalah ajang untuk berbuat maksiat.
Bagaimana sejarah Valentine’s Day??
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine's Day: "Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers."
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (Lihat : The Encyclopedia Britannica, sub judul : Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (Lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa "St. Valentine" termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St. Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (Lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (Lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan "Be My Valentine?" Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christians Observe It?" (www.korrnet.org) mengatakan kata "Valentine" berasal dari Latin yang berarti : "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa." Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi "to be my Valentine", hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa") dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Adapun Cupid (berarti : the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod "the hunter" dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Saudaraku, itulah sejarah Valentine's Day yang sebenarnya tidak lain bersumber dari orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan "kasih sayang", lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?
Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita -remaja putra-putri Islam- yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah SWT berfirman yang artinya : "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya." (QS. Al-Isra' : 36).
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam dan orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi'ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam : "Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR. At-Tirmidzi).
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine's Day mengatakan : "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena;
Pertama : Ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari'at Islam.
Kedua : Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka-.
Nah, coba kita lihat , apa yang dapat kita ambil manfaatnya dari V’day? Boros uang untuk beli coklat dan seabrek kado lainnya, pemborosan uang untuk biskin party, khlawat terjadi disana-sini, pesta sampai mabuk, apakah itu bermanfaat??
Sikap kita yang paling baik adalah meninggalkan dan tidak ikut-ikutan dalam peringatan tersebut, karena ditinjau dari sejarah, hukum, dan manfaatnya tidak sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Lalu, bagaimana kita meninggalkannya?? Padahal banyak orang yang melaksanakannya? Hal ini jangan dijadikan penghalang karena jika kita benar-benar berniat dan meninggalkannya maka kita tidak perlu cemas,, ingat kembali firman Allah “…Barang Siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Q.S Muhammad 47:7). Kita juga tidak perlu takut dan cemas menjadi “orang asing” karena tidak mengikuti V’day soalnya mengikuti kebanyakan manusia dengan meninggalkan sunnah Rasul adalah menyesatkan.
Rasulullah bersabda: Ketahuilah! Bilal bertanya, “Apa yang harus saya ketahui, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya siapa saja yang menghidupkan (kembali) salah satu dari sunnahku setelah dilupakan orang-orang sesudahku, maka baginya pahala seperti orang yang menjalankan sunnah itu tanpa dikurangi sedikitpun (HR. Tirmidzi)
Saudaraku, hari kasih sayang itu tidak hanya dilakukan pada momen-momen tertentu saja, tetapi setiap detik Allah memberikan waktu kepada kita adalah untuk berkasih sayang yang seharusnya dibudadayakan antar muslim. Dan jadikanlah hari-hari yang kita lalui sebagai hari kasih sayang “Everyday is Love day” tetapi dalam kerangka syariat Islam.
Terakhir, hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya."
Wallahu a’lam bishowab…
Thursday, February 4, 2010
Rose or Chocolate??
